PERAN KELUARGA BANTU PASIEN HEMODIALISA TETAP PRODUKTIF


Berita PMI - 06-10-2016 02:10

    Merawat pasien Hemodialisa membutuhkan kesabaran super ekstra, tak jarang banyak keluarga yang merasa terbebani, tidak hanya fisik tetapi juga psikis, karena harus merawat suami, istri, ayah atau ibu, anak, bahkan saudara kandungnya yang mengidap gagal ginjal kronik.
    RS PMI Bogor melalui kegiatan Forum Silaturahmi Hemodialisa pertengahan September lalu, berupaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik melalui peran serta keluarga dalam memberikan dukungan.
    Dalam Forum Silaturahmi Hemodialisa, salah satu pembicara Indah Irianti, SKmi mengatakan, peran keluarga sangat penting bagi pasien hemodialisa untuk tetap semangat bertahan di sisa-sisa hidupnya.
    "Sangat manusiawi setiap pasien yang didagnosis satu penyakit pastinmengalami perubahan psikologi, termasuk hemodialisa ini," katanya.
    Pasien hemodialisasi mengetahui posisinya sebagai orang yang memiliki harapan hidup singkat, hidupnya bergantung pada mesin pencuci darah selama sisa hidupnya.
    "Beban moril ini yang membuat pasien berubah baik emosi, sikap dan prilakunya lebih rewel dari biasanya," kata Indah.
    Tips agar keluarga dapat sabar menghadapi pasien hemodialisa adalah tetap berfikir positif dan menjadikan kesempatan tersebut sebagai ladang amal untuk menambah pahala di akhirat kelak.
    "Keluarga harus memahami, tapi bukan berarti memanjakan pasien. Pada saat pasien marah, jangan terbawa, lelah pasti. Rewel, bicarakan dari hati ke hati, pasien pasti bisa menerima," katanya.
    Indah menyarankan, perlu ada satu kesadaran bersama antara pasien, keluarga dan perawat kesehatan serta dokter untuk sama-sama memberikan edukasi tentang penyakit gagal ginjal kronik, sehingga semua bisa bersikap positif membangun semangat pasien hemodialisas agar tetap produktif dan meningkatkan kualitas hidupnya.
    Kepala Ruangan Hemodialisa RS PMI Bogor, Engkas Saputa menyebutkan jumlah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani cuci darah cukup banyak yakni 260 orang pasien.
    Banyaknya jumlah pasien tersebut menjadikan RS PMI Bogor sebagai sentra rujukan pasien cuci darah. Terdapat 56 mesin hemodialisa yang melayani rata-rata 80 pasien cuci darah setiap harinya.
    "Pasien Hemodialisa ini menjalani perawatan yang cukup panjang dan lama, mereka wajib cuci darah seminggu dua kali. Sekali cuci darah butuh waktu lima jam, memang memerlukan kesabaran ekstra," katanya.
    Ada usulan dari keluarga pasien agar ruang hemodialisa menyediakan fasilitas pengeras suara yang berisikan doa-doa atau ceramah agama. Sehingga sembari pasien menunggu cuci darah mendapat siraman rohani yang baik bagi jiwanya.
    Untuk menumbuhkan produktivitas dan meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik, RS PMI Bogor secara rutin setiap tahun menggelar forum silaturahmi hemodialisa. Tujuannya memberikan edukasi bagi para keluarga pasien, dengan harapan menumbuhkan wawasan tentang penyakit gagal ginjal kronik dan bagaimana penangananya.

Berita PMI

Srikandi RS PMI Bogor Sukses Hasilkan Buku Kesehatan

16.12.2017

Tak hanya melayani pasien, tim medis dari RS PMI Bogor juga berhasil meluncurkan sebuah buku tentang kesehatan. Lewat buku berjudul 'Basil Merah' tiga orang wanita yang berkecimpung di dunia kesehetan mengupas tuntas soal penyakit Tuberculosis.

Artikel Kesehatan

DIFTERI, KLB dan ORI

16.12.2017

Belakangan ini dengan beredarnya kabar KLB difteri di berbagai tempat di Indonesia yang disusul dengan dicanangkannya kegiatan ORI timbul kehebohan dan kebingungan di kalangan masyarakat terutama para orangtua. Berbagai pertanyaan yang timbul tersebut aka

SEHAT JIWA DI TEMPAT KERJA

16.12.2017

Konsep sehat menurut WHO adalah keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau cacat.

JANGAN MAKLUM DENGAN PIKUN

16.12.2017

Disadari atau tidak, pikun bukanlah sesuatu yang harus di maklumi. Karena Sekitar 60-70 % dari kasus Demensia atau Pikun merupakan penyakit Alzaimer dan itu bukanlah dianggap sesuatu yang wajar dalam proses penuaan