DIFTERI, KLB dan ORI


Artikel Kesehatan - 11-12-2017 08:12

image from googleDIFTERI

Oleh dr. Fransiska Sri Susanti, Sp.A

Difteri adalah penyakit infeksi sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium dyphteriae. Cara penularan: 
- lewat udara melalui percikan ludah atau dahak penderita
- Kontak langsung dengan penderita dan benda2 yang tercemar oleh bakteri difteri
Penderitanya bisa dari segala golongan umur, mulai bayi hingga manula, tetapi kelompok terbesar adalah balita.

Gejala muncul 2-5 hari setelah tertular berupa: 
- Demam
- Lesu
- nyeri tenggorokan, nyeri menelan, suara serak
- pembengkakan kelenjar getah bening leher
- terbentuk membran tebal abu2 menutupi tenggorokan dan tonsil (tonsil)
- Sulit bernapas, napas sesak karena saluran napas tertutup oleh bengkak dan membran
- Dapat mengenai mata, hidung, kulit.

Komplikasi:
- Kematian akibat sesak napas
- Toxin dari bakteri dapat meracuni otot jantung dan saraf sehingga terjadi radang otot jantung (miokarditis) dan neuritis (radang saraf) yang melemahkan otot jantung sehingga bisa terjadi kematian mendadak akibat gagal jantung

Diagnosis: 
- Usap tenggorok untuk pemeriksaan kultur (biakan) bakteri dan pemeriksaan mikroskop dengan pewarnaan khusus

Pengobatan dan penanganan:
- Pembuatan lubang melalui trachea (tenggorokan) untuk membuka jalan napas yang tertutup oleh pembengkakan dan membran
- Pemberian antibiotik penisilin prokain utk membunuh bakteri
- Pemberian serum anti difteri (ADS) untuk menetralkan toxin difteri
- Mengisolasi ketat penderita di ruang isolasi khusus di RS karena penularan yang sangat tinggi
- Memberi antibiotik profilaksis (pencegahan) untuk orang2 yang kontak dengan penderita
- Pelaporan kepada dinas kesehatan setempat

Pencegahan
- Imunisasi dasar dan ulangan:
- DPT (dalam bentuk kombo DPT-HiB-Hepatitis B) pada bayi usia 2,3,4 bulan, 18 bulan dan 5 tahun
- DT untuk anak usia 5-7 tahun. Bisa didapatkan melalui program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) di kelas 1 SD
- dT untuk anak usia > 7 tahun hingga dewasa. Bisa didapatkan melalui program BIAS di kelas 2 dan 5 SD. Dianjurkan memakai vaksin Tdap bila memang tersedia. 
- dT atau Tdap diulang setiap 10 tahun untuk remaja dan dewasa. Bisa didapatkan di dokter anak atau dokter umum untuk anak sampai usia 18 tahun dan di dokter umum atau internis untuk di ataa 18 tahun.

Tujuan imunisasi adalah menimbulkan antibodi terhadap difteri sehingga bila tertular tidak menjadi sakit atau kalaupun sakit tidak terkena sakit berat/cacat/meninggal. Imunisasi akan efektif melindungi masyarakat bila >80% populasi diimunisasi, sehingga menimbulkan herd immunity (kekebalan kelompok) yang dapat melindungi individu2 yang tidak bisa diimunisasi karena usianya yang belum cukup atau yang mempunyai penyakit yang menghalangi pemberian imunisasi

Kejadian Luar Biasa (KLB)

Penyakit ini sebetulnya sudah sempat lama tidak ada lagi karena keberhasilan program imunisasi tetapi mulai merebak kembali sejak tahun 2011 akibat mulai banyaknya orang yang tidak mau mengimunisasi anak2nya. Mengingat penyakit ini sangat menular dan sangat berbahaya maka ada 1 saja kasus yang muncul sudah bisa dianggap sebagai KLB. KLB ini dimulai di Jawa Timur tahun 2011 dan hingga kini tidak kunjung teratasi akibat penolak masyarakat terhadap imunisasi. Beberapa tahun berikutnya penyakit ini mulai merebak di propinsi2 lain. Tahun ini saja sudah ada 608 kasus di seluruh Indonesia dengan total kematian 32 orang. Dari sekian banyak penderita ternyata 66% tidak diimunisasi, 33% diimunisasi tapi tidak lengkap. Sisanya hanya 1% yang imunisasi lengkap

ORI (Outbreak Response Immunisation)

Menghadapi KLB ini maka pemerintah melakukan imunisasi serentak di wilayah2 yang terkena KLB, yang dinamakan ORI, diutamakan terlebih dahulu yang penderitanya paling banyak dan yang wilayahnya paling padat karena risiko penularan yang lebih tinggi. Dilakukan di propinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat yaitu di:
- Kota dan Kabupaten Tangerang
- Kota Tangerang Selatan
- Kota dan Kabupaten Serang
- Jakarta Utara 
- Jakarta Barat
- Purwakarta
- Karawang
- Kota dan Kabupaten Depok
- Kabupaten Bekasi


ORI ini ditujukan pada anak2 usia 1 - <19 tahun dengan jadwal 0, 1, 6 bulan, dimulai tanggal 11 Desember 2017. Kegiatan ini akan dilaksanakan di sekolah, posyandu, puskesmas, RS. Semua anak yang masuk kriteria wajib ikut tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Jadi walaupun anak2 anda sudah lengkap imunisasi tetap wajib mengikuti kegiatan ini. Bila anak anda kebetulan mempungai jadwal rutin imunisasi di periode ORI maka imunisasi rutinnya bisa dilebur ke dalam ORI. Bila jadwal rutinnya mepet dengan jadwal ORI maka dapat menunda imunisasi rutinnya lalu ikut ORI

Berita PMI

RS PMI BOGOR MELAKUKAN PEMERIKSAAN KESEHATAN GRATIS

19.01.2018

Rumah Sakit PMI Bogor melakukan pemeriksaan kesehatan gratis meliputi Tensi, asam urat, gula darah dan kolesterol dalam acara Sosialisasi Program BNI Fleksi Pensiun dari Bank BNI KC Bogor dan PT. Taspen

Srikandi RS PMI Bogor Sukses Hasilkan Buku Kesehatan

19.01.2018

Tak hanya melayani pasien, tim medis dari RS PMI Bogor juga berhasil meluncurkan sebuah buku tentang kesehatan. Lewat buku berjudul 'Basil Merah' tiga orang wanita yang berkecimpung di dunia kesehetan mengupas tuntas soal penyakit Tuberculosis.

Artikel Kesehatan

CARA MENYIMPAN OBAT DI RUMAH

19.01.2018

Bila cara penyimpanan obat di rumah tidak memenuhi persyaratan cara menyimpan obat yang benar, maka akan terjadi perubahan sifat obat hingga terjadi kerusakan obat, tentu hal itu justru akan memperparah kondisi pasien yang mengkonsumsinya.

ADA YANG MAU SAKIT GIGI? SUDAH PASTI TIDAK ADA

19.01.2018

Bayangkan betapa sengsaranya kita, bila kita tidak memiliki gigi. Bagaimana cara kita bisa menikmati daging? bagaimana cara kita bisa menikmati keripik atau makanan sejenisnya?

HIDUP BERKUALITAS DAN PRODUKTIF DENGAN TIDUR

19.01.2018

Tidak ada satupun aktivitas dalam kehidupan manusia yang tidak bermanfaat, termasuk tidur